Audiobook: terhibur dan belajar hal baru melalui suara

Bertahun-tahun yang lalu, saya tergolong orang yang sangat suka membaca. Ketika sedang getol-getolnya, saya bisa membaca 50 buku dalam satu tahun.

Salah satu memori yang paling saya ingat sampai sekarang adalah ketika dulu Papa saya nemenin cari buku Harry Potter and the Goblet of Fire sampai ke 4 toko buku, namun kehabisan semua. Hingga pada akhirnya ketemu juga di salah satu Gramedia di Jakarta Utara. Itupun sisa satu buku dan dalam keadaan sedikit rusak. Tapi tetap dibelikan karena sudah tidak sabar mau baca. Thank you Papa.

Image result for goblet of fire bloomsbury
Kalau tidak salah ingat, saya baca habis buku ini hanya dalam waktu 1-2 hari saja. Seru banget sih.

Namun di zaman makin canggih ini, saya justru makin ngga punya waktu untuk membaca buku (baca chattingan dan komentar di reddit sih sering).

Baru sekitar 3 tahun lalu saya ngeh bahwa sebenarnya audiobook itu ada loh, dan ini bisa menjadi solusi untuk mulai mengkonsumsi buku lagi.

Pada waktu itu saya pulang-pergi kerja dengan menggunakan mobil. Setiap hari bisa 1 jam habis nyetir di jalan. Sekarang ini pulang-pergi kantor menggunakan bus TransJakarta, namun waktu yang habis di perjalanan kurang lebih sama.

Biasanya browsing ngga jelas selama di kereta atau bus.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba audiobook dan berusaha untuk mencari sumber dan aplikasi yang paling cocok. Pertama kali mendengarkan Audiobook di mobil, saya langsung mikir, “Kenapa ngga dari dulu ya dengerin Audiobook?” Hahaha.

Setelah beberapa hari kemudian akhirnya kelar dengerin satu audiobook, saya jadi ketagihan.

Enak juga dibacain buku sama orang lain, rasanya seperti di-dongengin. Dan perjalanan PP kantor yang selama ini bosenin jadi lebih menarik. Nyetir pun cenderung lebih santai, karena terhibur mendengarkan buku ketimbang fokus ke kemacetan atau perilaku pengendara lain yang seringkali bikin kesel.

Setelah mendengarkan beberapa audiobook, saya malah ingin berargumen bahwa beberapa buku itu justru wajib denger versi audiobook-nya. Karena beberapa buku itu dibacakan langsung oleh penulisnya. Jadi untuk beberapa tipe buku berbau autobiografi, lebih dapet emosinya. Ada juga beberapa audiobook yang naratornya full-cast, alias beda voice actor untuk karakter-karakter yang ada di buku tersebut. Jadi mirip drama radio.

Di artikel ini saya ingin sharing nih tentang beberapa hal yang saya ketahui mengenai dunia audiobook.

Cara mendapatkan audiobook

Pertanyaan pertama: kamu pengen mendapatkan Audiobook secara legal atau ilegal? Haha. Untuk yang ilegal, kalian bisa cari sendiri ya. Banyak kok website torrent yang menyediakan audiobook.

Di artikel ini saya ingin share tentang yang legal-legal saja.

Pertanyaan kedua: ingin beli audiobook-nya, atau menyewa saja sudah cukup?

Kalau hanya menyewa sudah cukup, kamu bisa menjadi anggota perpustakaan di Amerika dan meminjam audiobook menggunakan aplikasi Overdrive atau Libby (kedua aplikasi ini sebenarnya sama, Libby adalah versi beta dari Overdrive yang tampilannya lebih cantik).

Cara pendaftarannya pernah saya bahas di artikel lain: Mendaftar akun perpustakaan di Amerika dari Indonesia.

Sekarang ini, ada lebih dari 14000 audiobook yang tersedia di Fairfax County Public Library.

Kelebihannya adalah dari sisi harga yang bisa dibilang cukup murah, hanya 27 USD / tahun (sekitar ~30,000an Rupiah saja per bulan). Namun kekurangannya adalah untuk meminjam audiobook yang populer, mungkin harus mengantri cukup lama. Tapi saya yakin di antara lebih dari 14000 audiobook yang tersedia, pasti ada saja audiobook yang menarik untuk dipinjam.

Pertanyaan ketiga: Beli audiobook dengan DRM atau tanpa DRM?

DRM (Digital Rights Management) adalah cara untuk membatasi akses audiobook agar tidak bisa dibagikan secara bebas. Selama perusahaan tempat kita membeli audiobook tidak tutup secara tiba-tiba, seharusnya tidak masalah. Namun jika perusahaan tersebut bangkrut/tutup/kena hack, maka ada kemungkinan besar kamu akan kehilangan akses ke semua audiobook yang sudah kamu beli. Dalam hal ini kamu membeli audiobook tersebut namun tidak benar benar memilikinya.

Pilihan pertama: Audible.com adalah penjual audiobook terbesar sekarang ini dan dimiliki oleh Amazon.

Audible memiliki promo audiobook gratis untuk pengguna baru.

Jujur saja selama ini saya tidak membeli buku di Audible karena secara prinsip saya menghindari DRM. Saya ingin benar-benar memiliki barang yang sudah saya beli.

Pilihan kedua: Downpour.com adalah satu dari beberapa pilihan yang menjual audiobook tanpa DRM. Pilihan dan harganya cukup bersaing. Downpour memiliki sistem langganan bulanan. dengan membayar 13 dolar setiap bulannya, kamu akan mendapatkan 1 credit. Kamu bisa menggunakan credit ini untuk membeli audiobook yang ada. Seringkali harga audiobook itu nilainya di atas 13 dolar, namun tetap bisa dibeli dengan 1 credit saja.

Beberapa audiobook yang saya beli melalui Downpour.

Jadi cukup menguntungkan jika berencana untuk membeli audiobook secara rutin tiap bulannya. Namun untuk audiobook-audiobook yang memang mahal, terkadang nilainya 2 credit, jadi kamu punya pilihan untuk membeli credit tambahan di bulan tersebut, atau menunggu bulan depannya lagi baru bisa mendapatkan audiobook tersebut.

Oh iya, sebenarnya di Downpour juga bisa menyewa audiobook. Harganya jauh lebih murah ketimbang membeli, dan bisa bayar sewa per buku.

Pilihan lainnya:
Audiobooks.com. Pernah denger tapi kurang tau banyak mengenai platform ini. Sekarang ini menjual >125,000 audiobook.
Google Play Audiobooks. Menjual audiobook yang menggunakan DRM, tapi ada juga yang tanpa DRM. Tergantung kebijakan penerbit/penulisnya.

Kamu bisa beli audiobook di Google Play kalau kamu memiliki akun Google dari salah satu negara ini (per 2019-06-15)

Saya yakin masih banyak platform tempat kamu bisa mendapatkan audiobook lainnya, namun ini beberapa yang saya sendiri gunakan / lebih paham.

Aplikasi

Setiap platform biasanya sudah memiliki aplikasi masing-masing untuk mendengarkan audiobook.

Kalau meminjam buku melalui platform Overdrive, kamu bisa memainkan audiobook yang kamu pinjam menggunakan aplikasi Overdrive atau Libby. Fiturnya cukup memadai untuk mendengarkan audiobook.

Tampilan audiobook player di aplikasi Libby.

Audible juga memiliki aplikasinya sendiri untuk mendengarkan audiobook yang dibeli melalui mereka.

Jika membeli buku dari Downpour, kamu punya pilihan untuk mendengarkan menggunakan aplikasi mereka, atau kamu bisa download saja file audiobooknya untuk didengarkan menggunakan aplikasi lain.

Jadi kalau beli dan download dari Downpour (atau kamu download secara ilegal dari website torrent), saya sangat menyarankan aplikasi Smart Audiobook Player.

Smart Audiobook Player. Saya suka banget sama app-nya sampai saya beli versi premium-nya. Hanya 5 USD seingat saya. Sangat murah untuk sebuah aplikasi yang sudah saya gunakan selama beberapa tahun ini.

Stabil, mudah digunakan, secara tampilan mungkin terlihat biasa saja, namun memiliki fitur-fitur yang sangat lengkap. Dan karena file-filenya sudah tersedia di smartphone, tidak perlu takut koneksi internet jelek.

Gadget pendukung (opsional)

Berhubung saya belakangan ini mendengarkan audiobook di transportasi umum, saya ingin merekomendasikan untuk membeli earphone / headphone yang memiliki fitur noise-cancelling.

Untuk pilihan yang lebih terjangkau, bisa menggunakan in-ear headphones, biasanya tanpa noise-cancelling pun, headphone in-ear sudah cukup untuk meredam sebagian besar suara bising yang ada. Namun tidak semua orang suka dengan earphone yang masuk cukup dalam ke lubang telinga mereka.

Sekarang ini juga mulai banyak earphone/headphone wireless dengan kualitas suara yang baik.

Saya akui memang lebih simpel menggunakan yang wireless. Namun senantiasa perhatikan saja level baterai-nya, jangan sampai zonk tidak bisa dengar audiobook karena baterainya habis.

Tipe yang seperti ini ringkas dan praktis.
Headphone Wireless + Noise-cancelling. Ukuran besar dan lebih repot untuk dibawa-bawa, namun kualitasnya bagus sekali.

Penutup

Audiobook adalah sebuah alternatif yang bagus banget untuk membaca buku. Kamu bisa mendengarkan audiobook sambil melakukan aktifitas lain yang tidak membutuhkan banyak mikir, seperti nyetir mobil, berdiri di kereta api atau bus, sambil masak, atau mungkin ketika menjelang tidur.

Saya juga jadi berpikir kalau audiobook bisa memiliki masa depan yang lebih cerah di Indonesia ketimbang buku biasa. Budaya membaca di sini mungkin rendah, namun budaya lisan di Indonesia seharusnya lebih kuat. Mendengarkan audiobook tidak terasa membaca, namun nilai ilmu dan hiburan yang didapat menurut saya sama saja, atau bahkan lebih baik.

Di artikel berikutnya, saya akan coba membahas Podcast, satu lagi produk lisan yang saya perhatikan sudah mulai naik daun di Indonesia.


Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.