Melawan polusi udara dengan filter udara DIY, alias bikin sendiri

Kualitas udara di Jakarta itu mengkhawatirkan. Kita bisa memantaunya setiap saat di website ini.

Tingkat polusi udara Jakarta tanggal 2019/07/19.

Apa arti angka 177 itu? Menurut Index Kualitas Udara, angka itu menunjukkan bahwa udara di Jakarta sudah di tahap “Tidak Sehat”.

Angka di atas 150 menunjukkan kualitas udara yang tidak baik, dan mempengaruhi kesehatan semua orang.

Jika dilihat selama ~4 bulan terakhir, tingkat polusi udara di Jakarta cukup konsisten jeleknya:

Kapan hijau lagi ya?

Jadi harus bagaimana?

Beberapa waktu belakangan ini saya sering batuk pilek yang rasanya kok tidak sembuh-sembuh ya. Banyak teman-teman di kantor juga mengalami hal yang sama.

Saya jadi berpikir apakah ini efek dari polusi udara Jakarta yang semakin buruk, dan setelah melihat data-data di atas, saya cukup yakin bahwa polusi udara Jakarta pasti ada pengaruhnya.

Kemudian saya mulai mencari tahu kira-kira bagaimana ya cara mengurangi polusi udara di rumah, minimal di kamar tidur, sehingga ketika selama beristirahat paru-paru saya juga bisa ikutan istirahat.

Setelah beberapa waktu mencari, saya menemukan jawaban yang menarik di Quora.

Filter udara DIY

Thomas Talhelm adalah seorang expat yang tinggal di kota Beijing, dan Beijing adalah salah satu kota dengan tingkat polusi paling tinggi di dunia.

Thomas pun menjadi sering sakit selama tinggal di sana. Untuk mencoba mengurangi dampak polusi udara, dia mencari pembersih udara komersil, namun harganya bisa sangat mahal, bisa mencapai US$2000 (~28 juta rupiah).

Dengan sedikit riset di Wikipedia, Thomas menemukan artikel tentang sebuah tipe filter udara yang ternyata cukup umum tersedia dan tidak mahal, namanya HEPA filter.

  • HEPA filter bisa menyaring 99% partikel berukuran 0,3 micron.
  • HEPA filter ini sudah ada sejak tahun 1940an
  • Tidak ada yang memiliki paten untuk pembuatan HEPA filter.

Menurut penelitian Thomas, air purifier yang mahal-mahal itu ternyata komponen utamanya HEPA filter juga.

Karena Thomas tinggal di China, mudah menemukan pabrik yang membuat HEPA filter. Harga ecerannya pun tidak terlalu mahal, hanya sekitar 200 ribu rupiah untuk HEPA filter berukuran sekitar 30x30cm.

Hanya berbekal kipas angin dan HEPA filter tersebut, Thomas membuat filter udara DIY (Do-It-Yourself) seperti ini:

Setelah digunakan selama 5 minggu di kamar tidurnya, HEPA filter itu menjadi kotor seperti ini:

Penasaran untuk mendapatkan hasil yang lebih ilmiah, Thomas kemudian membeli sebuah alat pengukur kualitas udara.

Inilah grafik kualitas udara di kamarnya selama menjalankan filter udara bikinannya selama 8 jam:

Ternyata memang sangat manjur! Thomas kemudian mengukur tingkat filtrasi filter udara bikinan sendiri ini dengan pembersih udara komersil yang jauh lebih mahal. Ternyata versi DIY Thomas sama atau bahkan lebih efektif meskipun dibandingkan dengan alat yang harganya puluhan juta rupiah.

Setelah membaca ini, saya pun tertarik untuk membuat alat serupa.

Susahnya mencari HEPA filter yang sesuai di Jakarta

Awalnya saya beranggapan mencari HEPA filter berukuran besar akan mudah, ternyata tidak juga. Banyak yang menjual HEPA filter sudah sebagai sparepart untuk vacuum cleaner, atau air purifier, namun harganya menjadi mahal sekali. Saya juga sudah coba keliling Lindeteves Trade Center di daerah Glodok, tapi ngga ketemu yang sesuai.

Berikutnya saya mencoba untuk menghubungi level produsen/distributor. Sayangnya mereka kurang responsif, atau memberikan harga yang mahal sekali (bisa jutaan rupiah). Mungkin mereka memberikan harga filter udara yang biasanya dipakai rumah sakit / gedung perkantoran.

Jadi kendala yang saya hadapi sekarang adalah untuk membeli contoh HEPA filter dari luar negri agar bisa menjadi contoh.

Untuk sekarang? Pakai filter vacuum cleaner

Sementara itu, saya mencoba untuk mencari ukuran alternatif HEPA filter yang terjangkau, tersedia di Jakarta, dan bisa digunakan sebagai pembersih udara.

Setelah mencari di beberapa tempat, saya putuskan untuk membeli HEPA filter yang seharusnya adalah sparepart vacuum cleaner merk Lakoni. Harganya tidak terlalu mahal, hanya sekitar Rp. 50,000.-

Ukuran filter cukup besar (diameter lubang dalamnya sekitar 12 cm). Untuk kipas anginnya, kebetulan saya sudah punya kipas panel heavy duty dengan ukuran yang mirip (diameter kipas sekitar 12 cm juga).

Kipas yang saya pakai ini umurnya sudah belasan atau bahkan puluhan tahun namun tetap berfungsi dengan baik. Sebab itu saya pribadi sangat menyarankan untuk menggunakan kipas tipe ini, karena memang dirancang untuk digunakan terus-menerus dalam waktu lama. Harganya sekitar Rp 86,000.- untuk kipas merk Orix buatan Taiwan.

Pemasangannya cukup simple, kipas cukup ditaruh di lubang filter. Karena perbedaan bentuk, ada sedikit celah antara kipas dan lubang filter yang harus ditutup dengan selotip agar tidak banyak angin yang kabur keluar.

Hasil akhirnya seperti ini:

Filter udara DIY à la Eka Wirya.

Saya memperkirakan bahwa alat buatan saya ini akan membutuhkan waktu lebih lama untuk membersihkan udara kamar tidur saya karena ukurannya yang tidak terlalu besar. Karena itu, filter udara jadi-jadian ini saya sambung dengan sebuah smart-plug yang bisa dikontrol melalui smartphone. Saya pribadi menggunakan TP-Link HS100, harganya sekitar Rp. 300.000an.

TP-Link HS100.

Menggunakan smart plug tersebut, filter udara ini saya set agar menyala secara otomatis setiap jam 5 sore, beberapa jam sebelum saya pulang dari kantor, dan akan mati secara otomatis pada jam 9 pagi ketika saya sudah berangkat ke kantor.

Smart-plug ini sifatnya opsional. Kamu bisa menggunakan smart-plug merk lain, atau menggunakan timer listrik yang bisa di-set manual seperti ini:

Alternatif yang lebih terjangkau.

Setelah penggunaan 8 hari, ini hasilnya:

Kiri: Filter sudah dipakai 8 hari; Kanan: Filter baru.

UPDATE (2019-09-08): Ini adalah salah satu filter yang saya buat, setelah digunakan setelah kurang lebih 2 bulan.

Kiri: filter sudah dipakai selama kurang lebih 2 bulan; Kanan: filter baru.

Bisa dilihat bahwa hanya dalam waktu cenderung singkat, filternya sudah kusam. Bayangkan kalau itu paru-paru kita.

Melihat perbandingan di atas, saya menyadari betapa kotornya udara di kamar tidur saya sendiri. Selama ini paru-paru saya ternyata terpapar polusi yang cukup banyak ketika tidur. Pantas saja sering batuk pilek.

Setelah satu minggu menggunakan filter ini, saya pribadi merasa lebih segar ketika bangun pagi (semoga bukan hanya efek placebo haha). Frekuensi ingusan dan bersin-bersin saya juga berkurang jauh.

Berdasarkan pengalaman ini, saya ingin menyarankan, khususnya bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, untuk membuat/membeli pembersih udara serupa untuk kesehatan paru-paru yang lebih baik. Saya juga berharap kita sebagai masyarakat dan pemerintah bisa lebih peduli terhadap isu kualitas udara ini.

Terima kasih sudah membaca, semoga berguna. Sampai jumpa di artikel berikutnya.


Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.

8 thoughts on “Melawan polusi udara dengan filter udara DIY, alias bikin sendiri”

  1. Artikel yg mantab
    Cari Hepa Filternya ke toko jual alat vacuum cleaner atau ke reprasi elektronik bang?
    Aku udah coba cari tapi enggak jumpa yg jual filter vacuum

    1. Saya pernah coba dua-duanya. Mungkin sebenarnya sama saja, tapi kalau angin keluar filter jadi lebih kelihatan debu dan kotoran yang kena filter, karena nyangkut dari luar, bukan di dalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.