The dimensions of Hario Polaris’ weighing plate

TL;DR: The Hario Polaris weighing plate measures 125 mm x 120 mm x 4 mm.

Hario Polaris doesn’t come with a mat or pad by default. For a scale at its price point, I personally think that’s a bit hard to accept.

Turns out, without heat insulation, the scale is known to exhibit weight drift influenced by heat from the carafe while you brew. People on Reddit have been working around this by placing coasters or other makeshift mats between the plate and the carafe, to act as a heat barrier.

Continue reading The dimensions of Hario Polaris’ weighing plate

My Threequal Pour-Over Recipe

On this post I’d like to share my current favorite pour-over recipe.

I personally call this the Threequal recipe. Three equal pours for a balanced cup.

It’s quite simple to do, doesn’t involve complicated mental math, and IMO produces a very balanced cup of coffee. Enough acidity, enough body, enough sweetness.

The recipe

Continue reading My Threequal Pour-Over Recipe

CO2 Monitor

Sudah lama saya penasaran soal kualitas udara di ruangan tertutup, terutama di ruangan seperti kamar tidur saya. Kebetulan beberapa minggu lalu ada teman yang mengajak untuk group buy barang-barang dari AliExpress.

Saya memutuskan untuk membeli portable CO2 monitor kecil untuk mulai iseng-iseng ukur level CO2 sendiri hehe. Saya memilih INKBIRD IAM-T1.

Barangnya saya terima ketika saya sedang di kantor. Jadi untuk eksperimen pertama: saya bawa alatnya naik taksi, terus saya biarkan alatnya mencatat level CO2 setiap menit sepanjang perjalanan. Saya tidak menyangka hasilnya seperti grafik berikut ini.

Continue reading CO2 Monitor

Dari Timemore ke Hario Polaris: timbangan kopi terbaik menurut saya

Timbangan kopi saya yang Timemore Basic Mini, sepertinya sudah tidak tertolong lagi :’)

Dulu, baru beberapa minggu dipakai, timbangan ini dijatuhkan ke lantai oleh salah satu kucing peliharaan saya ^^; Setelah itu, berat yang diukur bisa naik-turun sendiri meskipun tidak ada yang berubah. Sudah pernah saya kirim untuk di-service ke Benny Loves Coffee, tapi sepertinya tidak bisa sembuh 100%; antara penyakitnya kumat, atau hasil timbangannya jadi sangat tidak akurat.

Foto pelaku.

Setelah 2 tahun bertahan, akhirnya saya menyerah dan mencari timbangan kopi baru. Pilihannya ada dua: sidegrade atau upgrade sekalian.

Continue reading Dari Timemore ke Hario Polaris: timbangan kopi terbaik menurut saya

Pebble Time 2: Smartwatch untuk Para Tinkerer

Belum lama ini saya me-review Garmin Instinct 3 Solar. Di post itu saya bilang bahwa sebagai smartwatch, Garmin itu bagus banget kalau yang dicari hanya notifikasi, simple media control, dan health tracking.

Nah, akhir Mei kemarin, Pebble Time 2 saya akhirnya tiba. Saya pre-order jam ini dari bulan Maret tahun lalu, tidak lama setelah baca berita bahwa Pebble dibangkitkan kembali oleh Eric Migicovsky, founder Pebble itu sendiri.

TL;DR: Kalau health tracking jadi prioritas, Garmin masih juara. Tapi kalau mau memenuhi jiwa geeky, Pebble Time 2 ini menang jauh. 😀

Pebble Time 2

Continue reading Pebble Time 2: Smartwatch untuk Para Tinkerer

Cara Backup Google Photos Unlimited dengan Kualitas Foto & Video Original

Saya baru tahu kalau upload foto dan video dari smartphone Google Pixel generasi pertama itu tidak mengurangi kuota di Google Photos.

Ini yang bikin harga second-nya masih lumayan tinggi, padahal umurnya sudah hampir 10 tahun.

Masalah kuota backup ini memang makin lama makin kerasa mahal; apalagi kalau hobi foto. Backup foto saya di Google Photos sekarang sudah hampir 1TB.

Sejak tahu soal Google Pixel ini, saya mulai coba cari unit second-nya di marketplace online. Ternyata tidak semudah itu. Di beberapa platform, pencarian keyword “Google Pixel” itu sendiri sudah tidak diperbolehkan.

Continue reading Cara Backup Google Photos Unlimited dengan Kualitas Foto & Video Original

Nikon D700, kamera yang umurnya sudah bisa punya KTP

Di tahun 2010, saya berkesempatan ikut trip foto bareng salah satu fotografer senior Indonesia, Pak Hengki Koentjoro.

Waktu itu saya masih bekerja sebagai fotografer wedding di sister company King Foto. Mendekati resign, saya dan tim kebetulan dapat job wedding di Surabaya bersama Pak Hengki. Setelah job selesai, Pak Hengki berencana lanjut foto-foto ke area Bromo, Malang, dan Batu sebelum balik ke Jakarta. Pas ditawarkan ikut, saya langsung mengiyakan 😀

Continue reading Nikon D700, kamera yang umurnya sudah bisa punya KTP

Search Tokopedia yang Lebih Akurat

Sejak diakuisisi TikTok, mesin pencarian Tokopedia menurut saya semakin tidak bisa diandalkan. Kalau kamu pernah ngetik keyword spesifik tapi hasilnya malah produk-produk yang tidak relevan, kamu tidak sendirian.

Hasil pencarian sekarang seringkali menampilkan produk-produk yang tidak mengandung keyword yang dicari. Beberapa fitur juga sudah hilang, termasuk kemampuan memfilter hasil pencarian menggunakan keyword tertentu yang dulu sangat membantu.

Tapi saya menemukan cara untuk memaksa Tokopedia menampilkan hasil yang benar-benar relevan dengan keyword yang dicari.

Continue reading Search Tokopedia yang Lebih Akurat

Satu tahun di TikTok

Tidak terasa, awal April ini genap satu tahun saya lumayan rutin posting di TikTok.

Sejauh ini pengalamannya cukup menarik. Rata-rata konten saya memang tidak banyak yang menonton; mayoritas hanya mentok di ratusan view. Tapi ya, ratusan view tetap saja jauh lebih banyak daripada pembaca blog saya ini haha.

Kalau TikTok menganggap sebuah post cukup menarik, jangkauannya memang bisa tiba-tiba viral. Hanya saja, saya merasa kriterianya sulit ditebak.

Selama satu tahun ini, ada satu post yang sendirian menyumbang sekitar 40% dari total views yang saya terima.

@obskoora

Untuk menandai satu tahun ini, saya coba download data akun TikTok saya lalu membuat infographic berikut dengan bantuan LLM assistant.

Continue reading Satu tahun di TikTok

Mengenang TV Bodoh Saya

Setelah sekitar 10 tahun, TV “bodoh” saya akhirnya mulai menunjukkan masalah pada panelnya. Layarnya mulai terang-redup.

Saya ingat waktu dulu membeli Panasonic TH-32A403G ini, saya memang sengaja mencari TV yang bukan smart TV, alias dumb TV.

Sekitar 10 tahun lalu, TV seperti ini masih cukup gampang ditemukan. Yang justru sulit waktu itu adalah mencari TV ukuran 32 inci yang sudah Full HD. Mayoritas TV 32 inci saat itu masih punya resolusi HD. Seingat saya, hanya Panasonic yang waktu itu menawarkan spek seperti ini.

Sebenarnya selama ini saya beberapa kali kepikiran untuk upgrade TV. Tapi karena TV yang saya pakai selalu baik-baik saja, saya tidak pernah punya alasan yang cukup kuat untuk upgrade ^^;

Continue reading Mengenang TV Bodoh Saya