Apa itu Facebook Libra? Blockchain dan Cryptocurrency 101

Pada hari Selasa, tanggal 2019-06-18 kemarin, Facebook baru saja meluncurkan Libra, sebuah mata uang digital baru yang menggunakan teknologi blockchain.

Di artikel ini saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umum yang mungkin muncul bagi yang masih awam mengenai dunia blockchain / cryptocurrency.

Disclaimer: penjelasan di bawah mungkin terlalu sederhana. Saya berusaha untuk menjelaskan secara ringkas, namun mudah dimengerti.

Apa itu blockchain?

Blockchain, jika boleh dijelaskan secara sangat sederhana, sebetulnya hanyalah sebuah sistem pencatatan. Namun catatan ini bisa disalin oleh semua orang, bisa diakses oleh semua orang, dan bisa diperiksa oleh semua orang.

Jika ada seseorang yang ingin melakukan pencatatan transaksi baru, maka transaksi itu harus diperiksa silang dengan salinan catatan milik semua orang lainnya di dunia ini. Jadi seandainya ada yang mencoba untuk memanipulasi data / melakukan transaksi duplikat, hal tersebut bisa dicegah.

Jika transaksi baru itu berhasil melewati pemeriksaan silang dan disetujui oleh semua pemilik catatan di dunia, maka catatan transaksi baru itu akan ditulis ke semua salinan catatan yang ada di dunia juga.

Jika buku catatan sudah penuh, buku catatan ini akan dimasukkan ke sebuah kotak dengan kunci super canggih.

Kotaknya transparan agar buku catatan yang ada di dalam tetap bisa dibaca, namun kotak tersebut tidak akan bisa dibuka kembali untuk mengubah catatan yang ada di dalamnya.

Kotak itu kemudian akan dirantai ke kotak baru yang akan menyimpan buku catatan baru, demikianlah proses ini akan berjalan seterusnya.

Image source.

Block + chain = blockchain.

Apa itu cryptocurrency?

Cryptocurrency adalah mata uang digital yang menggunakan teknologi blockchain.

Apa sih yang membuat uang itu uang? Padahal kan hanya lembaran kertas yang nilai intrinsiknya rendah.

Uang itu bisa dianggap uang jika banyak orang mempercayai perwakilan nilainya, dan yang terpenting, uang yang sama tidak bisa digunakan lebih dari 1 kali.

Contoh, saya memiliki uang 50 ribu dan pergi ke KFC untuk membeli paket ayam. Transaksi akan terjadi jika saya dan KFC memiliki pemahaman nilai yang sama terhadap lembaran uang 50 ribu tersebut. Hal penting lainnya adalah, lembar 50 ribu yang sama tidak bisa lagi saya pakai untuk membeli kopi di Starbucks.

Biasanya sistem keuangan ini diregulasi oleh pemerintah. Dalam kasus Indonesia, diatur oleh Bank Indonesia.

Untuk menjaga nilai Rupiah, Bank Indonesia akan bekerjasama dengan penegak hukum untuk menghukum berat orang yang berani menduplikasi uang (anggap saja difotokopi warna). Karena jika uang hasil fotokopi itu digunakan, itu sama artinya dengan bisa menggunakan uang yang sama secara berkali-kali.

Jika uang fotokopi itu beredar secara luas, kepercayaan terhadap Rupiah akan jatuh. Nilai Rupiah pun akan hancur.

Menggunakan teknologi blockchain yang bisa menjamin bahwa transaksi yang sudah lalu tidak bisa lagi diubah-ubah oleh siapapun, dan dengan menjamin bahwa tidak akan ada transaksi duplikat yang bisa terjadi, maka blockchain menjadi teknologi yang cocok untuk mendukung sebuah sistem mata uang digital.

Beli kopi pakai cryptocurrency? Hm…

Untuk sebagian besar cryptocurrency, regulasi mata uang digital ini akan berada di tangan publik (decentralized), bukan pada sebuah badan pusat (centralized) yang seringkali dianggap kurang transparan.

Apa itu Libra?

Libra adalah sebuah cryptocurrency yang dipelopori oleh Facebook. Namun menurut Facebook, regulasi Libra akan diatur oleh sebuah badan terpisah bernama Libra Association.

Facebook menyatakan bahwa Facebook dan Libra Association adalah dua badan yang independen, di mana Facebook hanyalah salah satu anggota dari Libra Association. Asosiasi ini menargetkan untuk memiliki 100 perusahaan sebagai anggota, dan mereka akan memiliki bobot kekuasaan yang sama rata.

Sekarang ini perusahaan-perusahaan besar seperti Visa, Mastercard, PayPal, eBay, Spotify, dst sudah bergabung di Libra Association.

Anggota-anggota Libra Association saat ini.

Libra juga dirancang untuk menjadi mata uang digital yang sifatnya stabil. Banyak cryptocurrency lain memiliki pergolakan harga yang terlalu liar untuk dipercaya luas sebagai mata uang yang ditransaksikan sehari-hari secara umum.

Untuk menjamin kestabilan nilai mata uang Libra, pada periode awal, semua perusahaan yang ingin bergabung di Libra Association, harus membayar biaya sebesar 10 juta USD. Seratus perusahaan dikali 10 juta dolar = 1 Milyar USD.

Dana awal ini akan ditukar ke beberapa aset yang cenderung stabil nilainya seperti deposito / sekuritas pemerintah dalam mata uang-mata uang besar dunia seperti US Dollar, British Poundsterling, Swiss Franc dan Japanese Yen.

Libra akan dipastikan memiliki aset riil di belakang nilainya.

Apa tujuan Libra?

Libra memiliki tujuan yang sama dengan banyak cryptocurrency lainnya, seperti:

  • Membuka akses finansial modern yang lebih luas. Sekarang ini masih banyak sekali penduduk dunia (termasuk Indonesia), yang tidak memiliki akun bank. Karena itu mereka masih harus tergantung pada uang tunai dan belum bisa menikmati fasilitas keuangan modern seperti keamanan menyimpan uang di bank, transfer uang yang mudah ke teman dan keluarga, melakukan transaksi bisnis digital, dst.
  • Menawarkan kecepatan transfer dana yang cepat dan sangat terjangkau. Libra dikembangkan untuk menangani 1000 transaksi per detik, dan memiliki biaya transfer yang nyaris gratis. Jangkauan transfer cryptocurrency adalah global, tidak terbatas pada negara tertentu. Transfer ke teman yang ada di Bandung maupun di Jepang biayanya akan sama saja.

Yang membuat Libra menarik dibandingkan dengan cryptocurrency lainnya adalah ukuran Facebook yang sudah sangat besar. Jangan lupa bahwa Facebook memiliki salah 3 platform social terbesar di dunia: Facebook, WhatsApp, dan Instagram. Tiga platform ini saja sudah memiliki miliaran pengguna aktif.

Bayangkan jika kita bisa melakukan pembayaran dan transfer melalui WhatsApp menggunakan Libra. Membeli barang dari toko online di Facebook dan Instagram menggunakan Libra.

Belum lagi pengguna-pengguna dari anggota Libra Association lainnya yang tidak kalah masif.

Membayar langganan Spotify menggunakan Libra? Bisa.
Membayar Uber menggunakan Libra? Bisa.
Dan seterusnya.

Apakah Libra aman? Kan Facebook memiliki barisan skandal, terutama yang berhubungan dengan privasi penggunanya.

Ini adalah kritik utama untuk Libra. Facebook sendiri menyadarinya dan berusaha untuk menjawab dengan beberapa pernyataan ini:

  • Facebook menyatakan bahwa perusahaannya hanyalah satu dari 100 anggota Libra Association, dan memiliki porsi kontrol yang sama rata dengan 99 perusahaan lainnya.
  • Data Libra tidak akan disambungkan ke Facebook secara default, namun user akan memiliki opsi untuk menyambungkan Libra dan Facebook jika mereka memang menginginkannya.
  • Libra adalah sebuah proyek open-source, semua orang akan bisa menganalisa dan mengaudit sistemnya. Kalau kalian tertarik, Libra sudah tersedia di GitHub.

Kritik lainnya untuk Libra adalah, Libra tidak terdesentralisasi secara utuh. Pengguna Libra harus mempercayai bahwa sebagian besar dari 100 anggota Libra Association tidak akan pernah janjian untuk berbuat curang.

Kapan Libra akan diluncurkan?

Rencananya Libra akan diluncurkan pada pertengahan pertama tahun 2020.

Bagaimana cara menggunakan Libra?

Menurut presentasi Libra, para pengguna akan bisa membeli Libra menggunakan mata uang negara masing-masing. Libra akan memiliki nilai kurs-nya sendiri. Anggap saja seperti membeli mata uang asing.

Setelah memiliki sejumlah Libra, Libra ini akan bisa digunakan untuk bertransaksi dan transfer dana persis seperti GoPay, OVO, dan Dana.

Ilustrasi aplikasi dompet digital yang menggunakan Libra.

Menurut saya, terlepas dari reputasi Facebook, Libra memiliki potensi yang menarik.

Di Indonesia sendiri, 66% penduduknya belum memiliki akun bank (2018). Dengan munculnya teknologi dompet digital seperti GoPay, OVO, Dana, dst, yang memungkinkan orang untuk memiliki layanan keuangan digital, kita bisa menyaksikan pesatnya pertumbuhan ekonomi yang didudukung oleh dompet-dompet digital ini.

Menurut CEO GoPay, sekarang ini ada 240,000 UMKM mitra GoPay di Indonesia. Dua ratus empat puluh ribu bisnis yang kini memiliki sistem pembayaran modern. Saya sendiri tidak heran, gerobakan dekat stasiun kereta api saja sudah mulai banyak yang mendukung GoPay dan OVO.

Literasi masyarakat Indonesia terhadap layanan keuangan digital juga semakin tinggi. Menurut salah satu survey:

Sebanyak 70,63% responden mengaku paham mengenai layanan keuangan digital. Ada tujuh alasan mereka menggunakan layanan keuangan digital, yakni kemudahan dalam penggunaan (74,9%); simpel (71%); efisiensi waktu (62,7%); tidak perlu repot pergi ke bank (48,9%); lebih aman (36,4%); adanya promo dan insentif (36,4%); serta, pengelolaan yang lebih baik (29,8%).

“Dua Riset Sebut Go-Pay Dominasi Pasar Pembayaran Digital di Indonesia”

Libra mencoba untuk melakukan apa yang sudah GoPay, OVO, Dana, jalankan di Indonesia, tetapi dengan skala global menggunakan teknologi blockchain.

Pastinya perjalanan Libra tidak akan semulus itu, regulator keuangan dunia pasti belum merasa aman akan dampak mata uang digital seperti Libra. Banyak pemerintahan dunia juga pasti akan was-was terhadap efek mata uang global ini. Apakah Libra akan membuat nilai mata uang negara mereka jatuh? Apakah Libra bisa mencegah praktik pencucian uang? Ini adalah jenis pertanyaan yang pasti akan muncul.

Apapun yang bisa terjadi dalam 5 tahun ke depan, perjalanan Libra dan mata uang digital lainnya akan sangat menarik untuk disimak. Kita pantau bersama saja perkembangannya.

Semoga artikel ini membantu untuk bisa lebih mengerti dunia blockchain, dan cryptocurrency.

Bacaan tambahan:


Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.