Dari Timemore ke Hario Polaris: timbangan kopi terbaik menurut saya

Timbangan kopi saya yang Timemore Basic Mini, sepertinya sudah tidak tertolong lagi :’)

Dulu, baru beberapa minggu dipakai, timbangan ini dijatuhkan ke lantai oleh salah satu kucing peliharaan saya ^^; Setelah itu, berat yang diukur bisa naik-turun sendiri meskipun tidak ada yang berubah. Sudah pernah saya kirim untuk di-service ke Benny Loves Coffee, tapi sepertinya tidak bisa sembuh 100%; antara penyakitnya kumat, atau hasil timbangannya jadi sangat tidak akurat.

Foto pelaku.

Setelah 2 tahun bertahan, akhirnya saya menyerah dan mencari timbangan kopi baru. Pilihannya ada dua: sidegrade atau upgrade sekalian.

Berdasarkan pengalaman pakai Timemore Basic Mini, ada tiga pertimbangan tambahan yang saya pegang kali ini:

Baterai user-replaceable. Saya memang punya preferensi elektronik dengan baterai yang bisa diganti sendiri. Baterai built-in rechargeable memang praktis, tapi kalau lupa charge, timbangan tidak bisa dipakai minimal beberapa menit. Saya orangnya pelupa, dan ini sudah kejadian beberapa kali selama 2 tahun pakai Basic Mini.

Ukuran yang lebih sesuai untuk pourover. Dulu saya pilih Basic Mini karena ukurannya compact. Tapi kalau tidak dipakai untuk espresso, ukuran kecil ini justru kurang ideal; jika digunakan dengan carafe/server yang lebar, angka di layar malah bisa terhalang. Timbangan ini juga kadang saya pakai untuk menimbang bahan makanan, jadi ukuran kecil lebih merepotkan daripada membantu.

Fitur yang lebih relevan untuk pourover sehari-hari. Alasan lain saya dulu tertarik Basic Mini adalah fitur flowrate. Awalnya saya kira ini akan sangat berguna, tapi ternyata tidak terlalu relevan untuk pourover harian. Mungkin lebih cocok untuk kompetisi.

Dengan tiga pertimbangan ini, pilihannya jadi sangat sempit. Bahkan hanya ada satu yang saya temukan, yaitu Hario Polaris.

Pertama, Polaris masih menggunakan 3x baterai AA. Kalau baterainya habis, tinggal ganti dalam beberapa detik. Saya selalu punya stok baterai rechargeable siap pakai.

Kedua, ukurannya lebih standard, jadi lebih pas dipakai dengan carafe/server kopi dan sesekali untuk keperluan menimbang yang lain.

Ketiga, saya sangat tertarik dengan fitur Polaris Mode, yang sepengetahuan saya hanya ada di timbangan Hario ini. Dengan fitur ini, timbangan otomatis menghitung berat air yang dibutuhkan sesuai brew ratio pilihan kita (1:15, 1:16, 1:17, dst.).

Dulu saya terpaku pakai berat kopi tertentu biar mudah menghitung total berat air, dan berat air per tuangan sesuai dengan resep kopi yang digunakan. Tapi begitu terpaksa pakai berat kopi yang tidak biasa, misalnya karena stok kopi tinggal sedikit dan tidak cukup untuk brew ratio sesuai keinginan, saya jadi harus menghitung ulang berat air (total dan per tuangan) secara manual. Bukan hal sulit, tapi bukan sesuatu yang ingin saya lakukan ketika baru bangun tidur dan belum minum kopi 😛

Dengan Polaris Mode, kita tinggal set brew ratio yang diinginkan (saya pribadi pakai 1:16.5, paling mendekati 1:16.667 yang biasa saya gunakan). Timbang biji kopinya, dan Polaris otomatis menghitung berat air yang dibutuhkan; misalnya 297 gram air untuk 18 gram kopi. Tapi ini bukan keunggulan utamanya.

Polaris Mode sangat berguna ketika kita menggunakan resep multi-pour. Saat menuang air, timbangan ini menampilkan persentase air yang sudah dituang dari total kebutuhan. Jadi kalau kamu misalnya pakai resep 4:6 Tetsu Katsuya dengan pembagian 15%-25%-30%-30%, kamu tidak perlu konversi persentase itu ke berat air dulu — cukup perhatikan angka persentase yang muncul di layar.

Jadi, berapapun berat kopi yang kamu gunakan, tidak perlu lagi menghitung total berat air dan berat per tuangan sebelumnya. Timbangan ini juga memberi notifikasi suara begitu air yang dituang sudah mencapai 100%.

Lihat section nomor 3 untuk melihat persentase tuangan air hingga mencapai target.

Bagi saya, Polaris Mode ini jauh lebih berguna untuk pemakaian sehari-hari dibanding fitur flowrate.

Meski begitu, Hario Polaris bukan tanpa kekurangan:

  • Harganya mahal, walau bukan yang paling mahal dibanding timbangan kopi premium lain seperti Acaia.
  • Untuk harga segitu, silicon pad tidak disertakan, harus beli terpisah 🙁 agak keterlaluan sebenarnya ^^;
  • Level akurasinya tidak konsisten. Hario Polaris hanya memberikan akurasi 0.1 gram untuk 300 gram pertama. Tapi menurut saya tidak terlalu masalah untuk pourover.

Meski ada beberapa kekurangan itu, buat saya Polaris Mode-nya cukup untuk menutupi semuanya. Setelah dua tahun berkutat dengan timbangan yang “sakit-sakitan”, rasanya lega akhirnya punya timbangan yang benar-benar cocok dengan kebiasaan brewing saya sehari-hari.


Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *