Sekali-sekali menulis artikel. Pernah kerja di Tokopedia selama 7 tahun. Pernah juga bertualang di bidang fintech, streaming platform, dan sekarang di blockchain.
Sejak diakuisisi TikTok, mesin pencarian Tokopedia menurut saya semakin tidak bisa diandalkan. Kalau kamu pernah ngetik keyword spesifik tapi hasilnya malah produk-produk yang tidak relevan, kamu tidak sendirian.
Hasil pencarian sekarang seringkali menampilkan produk-produk yang tidak mengandung keyword yang dicari. Beberapa fitur juga sudah hilang, termasuk kemampuan memfilter hasil pencarian menggunakan keyword tertentu yang dulu sangat membantu.
Tapi saya menemukan cara untuk memaksa Tokopedia menampilkan hasil yang benar-benar relevan dengan keyword yang dicari.
Tapi jujur saja sekitar beberapa tahun semenjak itu saya mulai kurang membaca buku. Saya juga sempat telat memperpanjang langganan saya di Fairfax County Public Library (FCPL) sehingga akun saya keburu kedaluwarsa.
Di tahun 2025 ini saya berencana untuk sedikit memaksa diri untuk kembali rajin baca buku.
Singkat cerita, filter kopi dari bahan kain adalah filter kopi favorit saya saat ini.
Dulu ketika saya baru mulai hobi kopi, saya pernah nonton video dari James Hoffmann mengenai filter kopi kain.
Tapi waktu itu saya merasa belum cukup pede bisa berkomitmen menggunakan filter kain. Jadi selama ini, saya masih pakai filter kertas kalau bikin kopi. Barangnya mudah didapat, mudah digunakan, bersih-bersih jadi lebih mudah (tinggal dibuang saja bersama ampas kopi), dan hasil seduhan kopinya enak.
I’ve been fascinated by the 65:24 aspect ratio for quite some time.
Photographer Jonas Rask has written a series of blog posts about his experience using Fujifilm TX-1, a film camera that shoots in 65:24 ratio. Basically using 2 frames of 35mm film format at once for each photos.
As much as I like using Linux for personal use, I have to admit that it is not as straightforward to set up as I’d like it to be; but after setting it up properly, it does feels more personalized.
You also get this sense of freedom because you find that you can adjust the OS to your liking.
So I’d like to share my personal notes on what I usually do every time I set up Manjaro Cinnamon, my current favorite distro.
I had to search and refer to these notes a few times in the past, I’m sharing it now in hopes that it can help others.
How to auto enable Bluetooth
I don’t know why but by default, you have to enable bluetooth everytime you turn on the laptop, which is a hassle if you use a bluetooth keyboard, for example.
Pada kesempatan kali ini saya ingin sharing mengenai beberapa hardware dan software yang saya gunakan untuk menunjang kegiatan saya bekerja dari rumah di masa pandemi.
Push notification atau notifikasi seharusnya adalah sebuah fitur yang sangat berguna. Tanpa fitur tersebut, mungkin kita tidak akan sadar jika kita mendapat pesan penting dari teman, orang tua, pacar, suami, istri, anak, atau mungkin ketika mendapat email penting dari klien atau bos.
Namun jika jumlahnya sehari sudah ratusan atau bahkan ribuan, fitur ini tentunya menjadi kurang berguna atau bahkan menjadi sangat mengganggu.
Jika kalian menggunakan smartphone Android, coba cek menu Digital Wellbeing (di dalam setting Android), dan lihat berapa jumlah notifikasi yang bisa kalian terima dalam sehari.
Kalau saya sih biasanya bisa mendapat ratusan, atau bahkan ribuan notifikasi setiap harinya. Kalau melihat contoh pada tanggal 16 Juli di atas, artinya saya mendapatkan ~90 notifikasi setiap jam, atau 1 hingga 2 notifikasi setiap menit selama 24 jam. Untungnya tidak setiap hari seperti itu.
Saya merasa hal ini sudah tidak produktif. Notifikasi penting tenggelam di antara banjir notifikasi. Kita jadi mudah teralihkan perhatiannya ketika harus fokus kerja, dan jadi tidak tenang pada jam-jam santai kita.
Di artikel ini saya ingin sharing upaya saya selama ini untuk menjinakkan notifikasi-notifikasi yang saya terima.
This is a translation of an excerpt adapted from my review of GL.iNet Convexa-B (GL-B1300) router. As of writing, I'm using the official GL.iNet firmware version 3.104 (pre-release). This tutorial might work on other GL.iNet routers. I don't guarantee anything, so do this at your own risk.
If you already use GL.iNet Convexa-B (GL-B1300) router, you might already be aware that on the GL.iNet’s Admin Panel (not the LuCI version), there’s a toggle to activate DNS over TLS from Cloudflare.
MORE SETTINGS > Custom DNS Server
But what if I want to use other DNS provider such as NextDNS? I personally prefer NextDNS because it can also act as a DNS sinkhole. I’ve also paid for NextDNS Pro subscription. It’d be a shame if I don’t use it to its full potential 😛
Can we use NextDNS instead of Cloudflare? Yes, we can. It’s much easier if you’re on the latest version of vanilla OpenWrt, I believe you can just install luci-app-nextdns. If you want to stay on the official GL.iNet version (which is still using OpenWrt 15.05 as of July 2020), it’s a little more involved.
The way I use NextDNS is by modifying the configuration file to change the DNS server info from Cloudflare’s to NextDNS’. This way I can still toggle DNS over TLS easily from the Custom DNS Server menu.
Saya menulis artikel-artikel ini sebenarnya untuk blog pribadi saya. Namun saya menduplikasi artikel-artikel saya di Medium karena saya mengakui bahwa Medium adalah sebuah platform publikasi yang sudah jauh lebih matang, dengan jumlah pembaca yang juga jauh lebih besar.
Saya sendiri baru tahu bahwa jika kita posting konten yang sama di dua, atau bahkan beberapa platform yang berbeda, sebenarnya sangat penting untuk memberi tahu mesin pencari seperti Google, sumber mana yang memiliki otoritas lebih tinggi.
Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan canonical link. Jadi jika kamu ingin memberi tahu mesin pencari bahwa sumber konten yang memiliki otoritas tertinggi adalah artikel yang kamu post di blog pribadi, maka kamu bisa menambahkan canonical link pada artikel-artikel kamu di Medium.