CO2 Monitor

Sudah lama saya penasaran soal kualitas udara di ruangan tertutup, terutama di ruangan seperti kamar tidur saya. Kebetulan beberapa minggu lalu ada teman yang mengajak untuk group buy barang-barang dari AliExpress.

Saya memutuskan untuk membeli portable CO2 monitor kecil untuk mulai iseng-iseng ukur level CO2 sendiri hehe. Saya memilih INKBIRD IAM-T1.

Barangnya saya terima ketika saya sedang di kantor. Jadi untuk eksperimen pertama: saya bawa alatnya naik taksi, terus saya biarkan alatnya mencatat level CO2 setiap menit sepanjang perjalanan. Saya tidak menyangka hasilnya seperti grafik berikut ini.

Begitu saya plot datanya, polanya sangat menarik:

  • Menit-menit awal (18:55–18:56): CO2 masih di angka 500–700 ppm, alias mirip udara luar. Wajar, pintu mobil kan masih kebuka waktu itu.
  • Beberapa menit berikutnya: melonjak tajam ke 2.600–3.300 ppm cuma dalam 3 menit. Dugaan saya ini karena pintu tertutup, AC mobil masuk mode recirculate, dan CO2 terus bertambah dari napas penumpang. Jujur saya tidak menyangka level CO2 bisa naik secepat ini.
  • Selama kurang lebih satu jam berikutnya: naik terus secara stabil, hampir kayak garis lurus, sampai puncaknya di ~5.100 ppm.
  • Sekitar jam 20:15: kami mulai masuk jalan tol, dan supirnya beberapa kali buka jendela buat bayar tol. Ini terlihat cukup jelas di grafik; mulai titik ini angkanya turun dan berfluktuasi, tidak lagi naik mulus seperti sebelumnya. Setiap kali jendela terbuka, ada udara lebih segar yang masuk dan mengurangi konsentrasi CO2 di dalam mobil.
  • Menjelang akhir perjalanan: begitu sampai tujuan, angkanya langsung anjlok dari 1.600-an ke 457 ppm dalam waktu semenit karena saya akhirnya sudah keluar dari mobil.

Apa Angka Segitu Berbahaya?

Saya sempat cari-cari referensi soal ambang batas CO2 indoor, dan ternyata ada beberapa level yang cukup jadi acuan:

  • ~420 ppm: Ini level normal di udara luar ruangan, aman dan tidak menimbulkan masalah.
  • 1.000–2.500 ppm: Mulai muncul gangguan kognitif, ngantuk, sampai keluhan udara terasa “pengap” atau apek.
  • 5.000 ppm: Batas paparan kerja yang diizinkan untuk durasi 8 jam kerja.
  • 40.000 ppm (4%): Level yang langsung berbahaya buat nyawa dan kesehatan (IDLH), bisa bikin orang pingsan.

Nah, perjalanan taksi saya ini ternyata selama sekitar 90 menit, level CO2 berada di atas 3.000 ppm, dan sempat menyentuh 5.000 ppm. Tidak sampai bahaya secara medis, tapi cukup untuk bikin saya mikir, seberapa berpengaruh hal ini terhadap konsentrasi pengemudi mobil.

Saya kira, untuk orang-orang yang harus mengemudikan mobil secara full-time, mungkin sebaiknya sesekali membuka jendela mobil ketika sedang tidak macet untuk mengganti udara dalam mobil yang mungkin sudah tinggi level CO2-nya.

Yang Saya Pelajari

  • Ruang tertutup kecil kayak kabin mobil itu ternyata jauh lebih cepat “penuh” CO2-nya dibanding yang saya kira.
  • Buka jendela sebentar-sebentar buat bayar tol aja sepertinya cukup mengurangi level CO2 di mobil. Tapi dilema juga sih kalau mau buka jendela ketika terjebak macet. Kondisi udara di sekitar mobil juga pasti tidak ideal karena asap kendaraan bermotor lainnya.
  • Sekarang saya jadi punya alasan kuat untuk buka jendela dikit kalau saya kira kondisinya sudah mendingan; ketika sudah masuk tol dan agak lancar misalnya ^^;

Rencana Selanjutnya

Ini baru eksperimen iseng pertama. Beberapa hal yang mau saya coba berikutnya:

  1. Monitor level CO2 seharian di dalam rumah. Terutama ketika sedang WFH, untuk melihat apakah sirkulasi udara di dalam ruangan sudah cukup bagus.
  2. Monitor level CO2 di dalam kamar tidur ketika tidur, untuk melihat apakah ventilasi kamar tidur itu sudah cukup bagus.

Saya berharap hal ini bisa membantu saya untuk bernafas lebih sehat. Kebetulan alatnya bisa memberikan suara notifikasi ketika level CO2 mencapai angka tertentu.


Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *