Belum lama ini saya me-review Garmin Instinct 3 Solar. Di post itu saya bilang bahwa sebagai smartwatch, Garmin itu bagus banget kalau yang dicari hanya notifikasi, simple media control, dan health tracking.
Nah, akhir Mei kemarin, Pebble Time 2 saya akhirnya tiba. Saya pre-order jam ini dari bulan Maret tahun lalu, tidak lama setelah baca berita bahwa Pebble dibangkitkan kembali oleh Eric Migicovsky, founder Pebble itu sendiri.

TL;DR: Kalau health tracking jadi prioritas, Garmin masih juara. Tapi kalau mau memenuhi jiwa geeky, Pebble Time 2 ini menang jauh. 😀

Hardware
Dari sisi desain, Pebble Time 2 jauh lebih “normal” ketimbang Garmin Instinct Solar yang modelnya rugged dan sporty. Bahan stainless steel-nya juga memberi kesan lebih premium dibanding bahan plastik yang digunakan Garmin.
Layarnya sudah e-paper berwarna, tapi menurut saya kurang kontras. Mungkin ini memang keterbatasan teknologi e-paper saat ini. Backlightnya juga buat saya kurang terang. Tapi di outdoor, hal ini tidak terlalu terasa karena karakter layar e-paper itu sendiri..
Battery life-nya sendiri cukup lama, sekitar 10–14 hari. Kalah dibanding Garmin Instinct 3 Solar yang bisa bertahan sampai 3 minggu. Tapi kalau dibandingkan dengan smartwatch pada umumnya yang battery life-nya hanya 1-2 hari, jam Pebble ini tetap jauh lebih mending.
Saya juga suka dengan keputusan Pebble untuk menomorsatukan tombol fisik. Touchscreen sebenarnya ada, tapi fungsinya terbatas, tidak berlaku di setiap situasi. Tim Pebble menyebut ini dilakukan untuk menghindari accidental touches, dan saya pribadi setuju.
Jika dibandingkan dengan smartwatch lain pada umumnya, Pebble Time 2 menurut saya sudah sangat mencukupi kemauan saya. Namun jika dibandingkan dengan Garmin Instinct 3 Solar, memang ada beberapa hal yang saya sedikit rindukan. Yang pertama adalah fitur senter, yang kedua adalah fitur solar charging; keduanya bukan deal breakers.
Software
Di sisi software, ini mungkin bagian yang paling terasa istimewa.
Jujur, saya belum pernah pakai smartwatch baru dari brand besar seperti Samsung atau Apple. Dulu memang sudah pernah pakai Moto 360, tapi itu smartwatch dari tahun 2014. Jadi anggap saja ini pertama kalinya saya pakai smartwatch yang bisa di-install banyak aplikasi. Hal itu membuat Pebble Time 2 punya fungsi yang jauh lebih luas dibanding Garmin.


Selain aplikasi standar seperti alarm, timer, dan stopwatch, tersedia ribuan aplikasi dan watchface yang bisa didownload melalui Pebble Appstore. Saya juga sudah merasakan manfaat dari aplikasi seperti MemberCard; sangat membantu untuk scan membership atau loyalty card tanpa perlu mengeluarkan HP.
Yang paling saya apresiasi dari Pebble adalah keterbukaan platform-nya. Untuk membuat aplikasi, semua bisa dilakukan lewat CloudPebble Tidak lama setelah menggunakan jam ini, saya langsung coba bikin aplikasi sendiri: ParkTime, sebuah reminder kalau durasi parkir sudah mendekati 1 jam.
Prosesnya sangat mudah. Semua tools yang dibutuhkan, seperti emulator, sudah tersedia di CloudPebble. Jika sudah puas, kita bisa publish aplikasi yang dibuat ke Pebble Appstore.


Kemudahan inilah yang membuat Pebble Time 2 sangat cocok untuk orang-orang yang suka tinkering. Kalau ada fitur atau aplikasi yang belum ada, bisa bikin sendiri. Garmin di sisi lain lebih pas untuk yang ingin jam siap pakai tanpa perlu pusing. Keduanya punya tempat masing-masing; tergantung kamu tipe yang mana 🙂
Sebelum kamu pergi
Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.
