Nikon D700, kamera yang umurnya sudah bisa punya KTP

Di tahun 2010, saya berkesempatan ikut trip foto bareng salah satu fotografer senior Indonesia, Pak Hengki Koentjoro.

Waktu itu saya masih bekerja sebagai fotografer wedding di sister company King Foto. Mendekati resign, saya dan tim kebetulan dapat job wedding di Surabaya bersama Pak Hengki. Setelah job selesai, Pak Hengki berencana lanjut foto-foto ke area Bromo, Malang, dan Batu sebelum balik ke Jakarta. Pas ditawarkan ikut, saya langsung mengiyakan 😀

Yang saya ingat, waktu itu Pak Hengki menggunakan Nikon D700, kamera yang ketika rilis terkenal dengan performa high ISO-nya yang clean. Harganya masih sangat mahal waktu itu, kalau tidak salah sekitar 20–30 juta.

Kenangan itu sempat lama terlupakan. Sampai belakangan ini saya mulai sering menemukan konten soal kamera DSLR era 2000an, saya jadi teringat lagi dengan D700 ini. Saya kemudian iseng cek harga bekasnya, ternyata sudah cukup terjangkau. Akhirnya, karena nostalgia, saya beli di harga 4,3 juta Rupiah.

Apa yang didapat dengan 4,3 juta Rupiah

Awalnya saya tidak berharap terlalu banyak, tapi jujur saya tetap terkejut dengan betapa saya suka kamera ini.

Saya lupa betapa bagusnya ergonomi kamera DSLR zaman dulu. Semua kontrol penting punya tombol atau switch fisik masing-masing. Autofocus-nya juga masih cepat dan akurat; seharusnya tidak mengherankan, karena setahu saya D700 dulu juga cukup populer di kalangan fotografer sports.

A lovely amount of physical control buttons, dials, and switches.

Hasil fotonya pun masih sangat bagus. Resolusinya memang hanya 12MP, tapi untuk cetak ukuran normal dan sharing di media sosial, hasilnya masih lebih dari cukup. JPEG straight-out-of-camera-nya sudah enak dilihat tanpa perlu banyak edit. Nikon D700 memang dikenal punya color science yang pleasing untuk portrait.

Keuntungan lainnya adalah filesize untuk foto-fotonya tidak terlalu besar. Tidak berat juga untuk di-edit di Lightroom.

Keseluruhan pengalaman memotret dengan kamera ini sangat memuaskan. Dari bobot, ergonomi, suara shutter yang khas DSLR, sampai hasil foto, menurut saya semuanya punya value yang lebih dari kamera mirrorless modern di harga yang sama.

Tentu saja kamera ini bukan tanpa kekurangan. Bobotnya yang besar memang enak untuk dipakai foto, tapi kurang ideal untuk dibawa sehari-hari dan travelling. Suara shutternya memuaskan, tapi cukup berisik dan gampang menarik perhatian. Satu hal lagi yang perlu diantisipasi: D700 masih pakai kartu Compact Flash yang sudah tidak umum dijual, dan mencari card reader yang bagus juga mulai sulit.

Untuk sekarang, D700 ini saya jadikan kamera khusus portrait. Dipasangkan dengan lensa Nikon 85mm f/1.8 D, hasilnya masih sangat-sangat memuaskan. Berikut adalah beberapa hasil foto yang saya ambil menggunakan kombo kamera dan lensa ini:

Hasil fotonya masih sangat bagus untuk kamera yang umurnya sudah 18 tahun bukan?


Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *