Melawan inflasi: Deposito dan Bursa Efek

Bagian kedua dari kumpulan artikel mengenai pengalaman saya pribadi dalam berinvestasi.
— Monster itu bernama inflasi
— 
Melawan inflasi: Deposito dan Bursa Efek (artikel ini)
— 
Melawan inflasi: Reksadana dan Tabungan
 — Melawan inflasi: Peer-to-Peer Lending / Crowdlending / Crowdfunding

Disclaimer: Jangan hanya mengacu ke artikel ini dalam mengambil keputusan berinvestasi, Investasikan juga waktu untuk membaca dari banyak sumber lainnya sebelum mengambil keputusan 🙂


Seperti yang sudah saya ceritakan di bagian pertama. Sekarang ini saya jauh lebih rajin mencari informasi investasi untuk seminimal-minimalnya menjaga nilai aset dari inflasi.

Di artikel ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya dalam mencoba beberapa opsi investasi tersebut. Mari kita mulai dari beberapa yang “tradisional”.

Deposito

Deposito menurut saya tetap pilihan yang bagus, karena bagaimanapun ini adalah salah satu pilihan investasi yang paling aman. Hanya saja harus jeli mencari informasi bank mana yang menawarkan bunga deposito yang terbaik.

Dalam mencari, kita harus perhatikan juga berapa nilai bunga deposito yang masih dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan.

Sumber: LPS.go.id.

Hal ini bisa menjadi pertimbangan dalam memilih deposito, saya tahu ada beberapa bank yang menawarkan bunga deposito di atas penjaminan LPS, namun pertimbangkan juga faktor penjaminan dana ini.

Contoh deposito dengan bunga di atas penjaminan LPS. Sumber: Bank Sinarmas.

Satu hal yang menarik adalah deposito dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dijamin hingga 8.25% oleh LPS.

Jujur saja saya sendiri belum memiliki deposito di BPR, namun ini sudah masuk dalam radar saya. Kendalanya adalah informasi mengenai BPR ini lebih sulit didapatkan, dan biasanya lokasinya jauh dari saya.

Contoh BPR yang menawarkan bunga deposito hingga 8.25%. Sumber: BPR Subang.

Oh iya, ada satu hal yang saya sendiri baru tahu tidak lama ini mengenai tabungan dan deposito, ternyata pajaknya cukup tinggi, yaitu 20% dari bunga.

Jadi jika Anda berinvestasi di deposito yang bunganya 5%/tahun, sebenarnya Anda hanya akan mendapatkan 4%.

Bursa Efek

Sebenarnya beberapa tahun lalu sempat coba invest di beberapa saham, namun kesimpulan saya adalah, saya lumayan payah dalam memilih saham. Saya bukan tipe trader, saya tipe beli dan tahan. Dari portfolio saya, saya bisa bilang sekarang ini saya cuma impas. Ada yang turun drastis, ada yang naik drastis. Tapi secara keseluruhan, performanya payah. Karena impas dalam hitungan 2-3 tahun, artinya secara nilai belum terproteksi dari inflasi.

Saya coba baca-baca lebih banyak lagi informasi mengenai investasi saham, dan sepertinya saya sudah menemukan produk yang cocok untuk saya: investasi di index fund. Secara singkat: index fund adalah tipe reksadana yang dikelola secara pasif mengikuti pergerakan suatu indeks saham. Contohnya adalah R/LQ45X (ETF yang mengikuti pergerakan indeks LQ45 – indeks dari 45 perusahaan besar di Indonesia).

Kenapa saya tertarik dengan index fund? Secara prinsip, dengan berinvestasi di ETF indeks fund seperti R/LQ45X, saya tidak berusaha untuk mengalahkan pasar, karena saya berinvestasi di pasar tersebut.

Warren Buffett, salah seorang investor paling hebat di dunia, pada tahun 2006, menawarkan taruhan jangka panjang sebagai bentuk kritiknya kepada manajer investasi hedge fund yang mengutip biaya tinggi sembari menjanjikan performa yang mengalahkan pasar (dan biasanya gagal dalam memenuhi janji tersebut).

Warren Buffett bertaruh US$500,000 bahwa dalam jangka waktu 10 tahun, index fund S&P500 (indeks dari 500 perusahaan besar di Amerika Serikat), akan mengalahkan mayoritas dari hedge fund yang ada.

Anda bisa membaca lebih lengkap mengenai taruhan tersebut di sini.

Intinya: Warren Buffett memenangkan taruhan tersebut.

Saya sertakan juga satu video yang menjelaskan mengenai keunggulan index fund, data yang dikutip memang seputar investasi di Kanada, namun saya pribadi setuju dengan pemikiran dasarnya.

Point-point utamanya adalah:

  1. Secara matematis, tidak mungkin semua manajer investasi bisa mengalahkan pasar. Jadi membayar biaya yang mahal untuk performa di bawah pasar, menjadi tidak menarik lagi.
  2. Kenapa demikian? Karena semua manajer investasi bermain di pasar yang sama. Jadi pertumbuhan rata-rata mereka = pertumbuhan pasar. Dikurangi lagi dengan biaya yang mereka kutip. Jika ada manajer investasi yang sedang berhasil mengalahkan pasar, artinya ada manajer investasi lainnya yang sedang gagal mengalahkan pasar.
  3. Jika yang professional saja demikian, bagaimana saya, seseorang yang bukan professional bisa mengalahkan pasar? Ketika saya memilih saham-saham untuk diinvestasikan, saya menjadi manajer investasi untuk diri saya sendiri. Dan saya menganggap diri saya sebagai manajer investasi yang payah 😅.
  4. Jadi untuk investasi jangka panjang di dunia saham, saya sendiri mulai fokus berinvestasi lebih banyak di index fund 🙂.

Saya tetap akan membeli saham satuan, tapi porsinya akan saya kurangi. Untuk investasi yang lebih high-risk, saya ada pilihan-pilihan lain yang akan saya ceritakan di artikel berikutnya.

Jika Anda tertarik untuk mulai berinvestasi di saham / ETF, bisa dimulai dengan membuka akun di sekuritas seperti Mirae Asset Sekuritas dan IndoPremier.

Artikel ini akan berlanjut ke bagian ketiga, Melawan inflasi: Reksadana dan Tabungan


Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.

2 thoughts on “Melawan inflasi: Deposito dan Bursa Efek”

  1. Mantap ka, mungkin artikel selanjutnya bisa dibahas soal reksa dana. Kayaknya cocok buat orang-orang yang males main saham, tapi tetap bisa dapat untung lumayan dan tidak kena pajak (dibandingkan dengan deposito)

Leave a Reply

Your email address will not be published.