Melawan inflasi: Reksadana dan Tabungan

Bagian ketiga dari kumpulan artikel mengenai pengalaman saya pribadi dalam berinvestasi.
— Monster itu bernama inflasi
— 
Melawan inflasi: Deposito dan Bursa Efek
— 
Melawan inflasi: Reksadana dan Tabungan (artikel ini)
 — Melawan inflasi: Peer-to-Peer Lending / Crowdlending / Crowdfunding

Disclaimer: Jangan hanya mengacu ke artikel ini dalam mengambil keputusan berinvestasi, Investasikan juga waktu untuk membaca dari banyak sumber lainnya sebelum mengambil keputusan 🙂


Di artikel sebelumnya, saya menceritakan pengalaman dan pendapat saya mengenai deposito dan bursa efek, khususnya index fund. Jadi di kesempatan kali ini saya ingin membahas tentang reksadana dan tabungan.

Reksadana

Reksadana bisa dibilang adalah cara mudah bagi investor individual untuk berinvestasi di berbagai instrumen seperti obligasi, pasar uang, saham, dsb.

Melalui reksadana, investor-investor mempercayakan uangnya kepada Manajer Investasi untuk dikelola secara professional.

Ada 5 tipe umum reksadana, perbedaannya ada di dalam komposisi investasi reksadana tersebut:

  1. Reksadana Pasar Uang
    Ini tipe reksadana paling aman, karena 80% investasinya ada pada efek pasar uang yaitu efek hutang yang berjangka kurang dari satu tahun, seperti SBI, dan deposito. Karena itu, imbal hasilnya terbatas. (Meskipun demikian, untuk sekarang ini ini adalah tipe reksadana favorit saya, akan saya jelaskan nanti.)
  2. Reksadana Pendapatan Tetap
    Untuk tipe reksadana ini, sekurang-kurangnya 80% dari portofolio yang dikelola diinvestasikan ke dalam efek bersifat hutang. Imbal hasil secara teori lebih tinggi ketimbang reksadana pasar uang, namun resikonya juga lebih besar.
  3. Reksadana Saham
    Sesuai namanya, sekurang-kurangnya 80% dari portofolio yang dikelola diinvestasikan ke dalam efek bersifat ekuitas (saham). Potensi imbal hasil paling tinggi, dengan resiko yang paling tinggi juga.
  4. Reksadana Campuran
    Versi campursari, komposisinya adalah saham dan efek bersifat hutang. Teorinya reksadana ini bisa mendapatkan imbal hasil di atas reksadana pendapatan tetap, namun di bawah reksadana saham. Resikonya juga berada di antara 2 tipe reksadana tersebut.
  5. Reksadana Index
    Sebenarnya ini bisa dibilang sama dengan Index Fund yang saya bahas di artikel sebelumnya, dimana pergerakan harganya dikelola secara pasif untuk mengikuti indeks tertentu. Hanya saja namanya adalah ETF (Exchange-traded fund) jika diperjualbelikan di bursa efek. Satu lagi perbedaanya dengan ETF adalah: Harga ETF bisa berubah setiap saat, berbeda dengan nilai reksadana umumnya yang berubah sekali sehari.

Jadi dari 5 tipe tersebut, saya pribadi merasa paling cocok dengan diversifikasi di 2 tipe: reksadana pasar uang dan ETF Index Fund.

Kenapa reksadana pasar uang? Saya menganggap reksadana pasar uang sebagai deposito dengan bunga yang lebih tinggi, dan yang paling penting: pendapatan dari reksadana itu bukan objek pajak! Menurut saya ini sangat signifikan.

Contoh:
Sekarang ini, bunga deposito yang masih dijamin LPS adalah 5.75%. Dikurangi pajak 20%, bunga yang didapatkan tersisa 4.6%.
Reksadana pasar uang dengan imbal hasil tertinggi 1 tahun terakhir mendapatkan 7.16% (data Mei 2018), dan ini sudah tidak kena pajak lagi.
Jadi, terdapat perbedaan sebesar hingga 55% dari pertumbuhan investasi di deposito vs reksadana pasar uang. Perbedaan yang cukup besar kan.

Karena saya mencari reksadana pasar uang sebagai alternatif deposito dengan bunga yang lebih tinggi, saya juga sangat memperhatikan kestabilan pertumbuhan dari reksadana tersebut.

Contoh reksadana pasar uang dengan imbal hasil baik namun pertumbuhannya tergolong stabil. Sucorinvest Money Market Fund.

Jika Anda tertarik untuk berinvestasi di reksadana, sekarang sudah cukup banyak layanan yang memfasilitasi, seperti:
Bareksa (khusus reksadana)
IndoPremier (bisa reksadana dan saham)
Mirae Asset (bisa reksadana dan saham)
Invisee (khusus reksadana)
Tanamduit (khusus reksadana)
– dan saya yakin masih banyak opsi lainnya.

Tabungan

Saya rasa tabungan tetap harus diperhatikan hehe, bagaimanapun juga tabungan itu sangat liquid, uangnya bisa digunakan kapan saja untuk keperluan sehari-hari. Saya pribadi masih menyisakan dana yang kira-kira akan saya pakai dalam 1-3 bulan ke depan di tabungan.

Biasanya bunga tabungan itu sangat kecil, tapi belakangan ini ada beberapa bank yang demi merayu user untuk menggunakan platform digitalnya, menawarkan bunga tabungan yang sangat menarik. Contoh:

digibank by DBS

digibank by DBS menawarkan bunga tabungan 3% per tahun.

Jenius (Bank BTPN)

Sedangkan Jenius (Bank BTPN) menawarkan bunga 5% per tahun untuk tabungan.

Menurut saya pribadi, selama bank-bank ini masih menawarkan bunga tinggi untuk tabungannya, pergunakan saja. Di luar bunga tabungan yang tinggi, mereka juga ada promo-promo lain untuk meringankan keputusan untuk berpindah ke mereka, seperti: bebas biaya admin, bebas biaya transfer ke bank lain, dll.

Selagi mereka heboh berpromosi, rugi kalau tidak ikut menikmati hehe.


Artikel ini akan berlanjut ke bagian keempat,Melawan inflasi: Peer-to-Peer Lending / Crowdlending / Crowdfunding.


Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.