Pindah ke Linux

Sejak beberapa tahun lalu sebenarnya saya sudah pernah beberapa kali celup-celup kaki mencoba menggunakan Linux sebagai sistem operasi. Tapi sebatas dijalankan dari flashdisk saja untuk coba-coba.

Misalnya: Neverware CloudReady, sistem operasi yang sangat ringan karena isinya β€œhanya” Chrome browser. Saya juga sudah pernah coba Ubuntu, Lubuntu, Elementary OS.

Namun selama ini belum bisa komitmen 100% nyebur menggunakan Linux sebagai sistem operasi utama. Masih ada rasa takut bagaimana kalau ada hal yang hanya bisa saya lakukan di Windows untuk kegiatan sehari-hari.

Hal ini berubah minggu lalu ketika saya akhirnya memutuskan untuk beli laptop second-hand yang masih bagus banget spesifikasi dan kondisinya πŸ™‚ Sengaja saya beli untuk install Linux.

Pilihan saya jatuh ke Lenovo ThinkPad X1 Carbon. Keluaran sekitar tahun 2012 sih, tapi dengan harga sekitar 4 juta rupiah saja sudah mendapatkan laptop cukup tipis dengan berat hanya 1.3 kg, prosesor Intel Core i5–3427U, memory 8 GB, dan harddisk SSD 128 GB. Lumayan banget kan?

Penampakan Lenovo ThinkPad X1 Carbon

Ketika datang, laptop ini masih menggunakan Windows 7, namun langsung saya ganti dengan Linux Mint.

Kenapa sekarang ingin menggunakan Linux?

Sebelum ini saya menggunakan laptop dengan spec yang mirip (memory 8 GB), namun sejak upgrade ke Windows 10, performa laptopnya makin payah. Memory cepat sekali full meskipun tidak buka banyak app, palingan hanya Firefox yang utama. Edit dokumen di Google, atau hanya sekedar scrolling saja bisa nge-lag dahsyat kalau buka cukup banyak tab. Karena tidak tahan lagi, Linux kembali jadi pertimbangan.

Saya juga melakukan analisa ulang terhadap pola penggunaan laptop saya pribadi:

  1. Untuk urusan kerja, hampir semuanya sudah saya lakukan online melalui internet browser. Dokumen? Spreadsheet? Google Docs. Outlining? Dynalist. Komunikasi? Gmail, Slack, WhatsApp, Telegram. Semua ada webapp-nya / ada app-nya di Linux.
  2. Untuk urusan hiburan pun sama, hampir semua sekarang diakses melalui internet browser saja: YouTube, Netflix, Spotify.
  3. Gaming? Sudah jarang sekali main game di PC/laptop. Belakangan ini di laptop palingan main Rocket League, dan game ini pun sebenarnya tersedia di Linux melalui Steam.
  4. Aplikasi yang penting-penting seperti password manager (saya pakai Keepass), Dropbox, f.lux, dan beberapa lainnya sudah tersedia versi Linux-nya atau ada ekuivalen-nya.
  5. Untuk edit foto, sekarang sudah jarang edit di komputer, kebanyakan di smartphone saja menggunakan Snapseed dan VSCO. Untuk manipulasi foto basic di Linux masih ada GIMP.

Mungkin saya bisa jabarkan juga aplikasi-aplikasi yang sering saya gunakan untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai pola penggunaan saya pribadi:

  • Firefox / Chromium / Chrome (Gmail, Google Docs, Trello, WhatsApp, Feedbin, Dynalist, Netflix, dst)
  • Dropbox
  • Keepass
  • Redshift (mirip f.lux di Windows)
  • Telegram (saya install desktop app-nya karena ada Dark theme)
  • Libre Office (jaga-jaga kalau butuh edit dokumen offline)
  • Simplenote
  • GIMP (photo/image editor, seperti Photoshop)
  • XMind (mindmapping tool)
  • Spotify
  • VLC

Semuanya tersedia di Linux. Jadi untuk saya pribadi, sudah tidak banyak alasan kuat lagi untuk harus menggunakan Windows. Yang penting adalah sistem operasi yang ringan, bisa install Firefox.

Kesan menggunakan Linux

Setelah menggunakan Linux Mint selama dua minggu, berikut kesan-kesan saya:

  • Saya sangat puas atas performa Linux Mint, ternyata sudah sangat matang. Hampir semua aplikasi penting sudah tersedia di instalasi awal, seperti Firefox, LibreOffice, dst. UI/UX-nya pun menurut saya sudah bagus sekali.
  • Harus diakui masih ada beberapa hal dasar yang harus ditambah sendiri, contohnya Fusuma, untuk menambah fungsi gestur touchpad agar mendukung gestur lebih dari 2 jari. Cara installnya pun kurang ideal karena harus menggunakan command line di Terminal. Namun instruksi instalasinya cukup jelas tersedia.
  • Ringan :’) Sekarang ini saya sudah test buka Firefox dengan belasan tabs (termasuk Google Drive, beberapa dokumen online), beberapa aplikasi seperti Keepass, Telegram, Simplenote, Spotify, dan penggunaan memory-nya baru 4.6 GB (61%) :’) kalau di Windows, ini biasanya sudah 80–90% XD Dan meskipun ini laptop yang sudah cukup berumur, tapi hampir tidak pernah nge-lag membuka sekian program tersebut secara bersamaan. Di sisi ini sih puas sekali.

 

 

  • Ternyata saya suka sama konsep Workspaces di Linux (sepertinya pengguna macOS juga bisa menikmati hal ini dari awal). Lebih rapih karena sekarang saya pisahkan aplikasi-aplikasi untuk keperluan pribadi, kerja, hiburan ke Workspace yang berbeda.

 

  • Sepertinya Linux masih kurang efisien dalam hal penggunaan daya. Battery life menggunakan Linux rasanya memang lebih pendek ketimbang masih menggunakan Windows.
  • Meskipun demikian, saya cukup yakin bahwa saya tidak akan perlu untuk beli laptop mahal dengan harga belasan/puluhan juta lagi ke depannya πŸ™‚

Di luar hal-hal di atas, menggunakan Linux juga seharusnya lebih baik untuk privacy. Windows 10 mengumpulkan banyak sekali data kita sebagai pengguna (rasanya itu juga kenapa awalnya mereka membagikan Windows 10 secara gratis). Mungkin kita tidak bisa 100% lari dari pengumpulan data seperti ini, tapi kalau bisa dikurangi kenapa tidak.

Kesimpulannya, saya akan terus menggunakan Linux untuk kegiatan dan kerja sehari-hari. Linux Mint sudah sangat cukup untuk keperluan saya. Saya akui Linux masih belum ideal untuk orang-orang yang masih harus banget menggunakan program seperti Microsoft Office, Photoshop, Sketch, dsb. Untuk yang seperti itu masih harus menggunakan Windows atau macOS.

Tapi untuk sebagian besar orang, coba deh menggunakan Linux, saya yakin kalian akan kaget πŸ™‚ Minimal bisa coba untuk menjalankan Linux melalui flashdisk terlebih dahulu.


Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.

2 thoughts on “Pindah ke Linux”

  1. Salam kenal mas, artikelnya keren banget.

    Setelah baca artikelnya, saya jadi lumayan tertarik sama ThinkPad nih mas, kalau boleh tau dulu dapet ThinkPad nya beli di marketplace apa mas? Terus kesannya pake ThinkPad sampe sekarang gimana mas? Makasih

    1. Halo, salam kenal juga πŸ™‚

      Tidak terasa sudah 2 tahun terakhir saya pakai laptop ThinkPad X1C ini sebagai laptop pribadi. Pengalamannya sih positif banget ya menurut saya. Sudah saya coba pakai untuk banyak hal. Pernah saya pakai untuk ikut kelas programming Android untuk pemula masih ok. Pernah juga saya pakai untuk ikut kelas R untuk pemula, lancar juga.

      Kondisi ThinkPad X1C ini sebenarnya masih bagus, tapi saya baru saja upgrade ThinkPad belum lama ini hehe. Barang second juga. Saya lagi persiapkan artikelnya hehe

      Untuk pembelian, dua-duanya saya beli dari Tokopedia. Untuk yang X1C, saya beli dari toko yang sepertinya memang spesialis jual laptop 2nd. Tokonya menurut saya cukup jujur dalam menuliskan kondisi laptopnya, kurangnya di mana.

      Ini link ke tokonya: Shoozay. Stok barang di toko itu sering berubah, sering-sering cek saja.

      Berkat pengalaman ini jujur aja saya jadi mulai fanatik dengan ThinkPad hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published.