Saya sudah beberapa kali mencoba menggunakan smartwatch secara rutin.
Pada tahun 2014 dulu saya menggunakan Moto 360. Sejak saat itu, saya sudah pernah beberapa kali menggunakan smartwatch dan smartband lain.

Namun saya tidak pernah benar-benar betah menggunakan semuanya secara rutin. Alasan utamanya sangat simple: battery life.
Smartwatch bukanlah gadget yang saya anggap penting banget, beda level dengan smartphone. Jadi tambahan kerepotan untuk selalu mengingat charge smartwatch itu buat saya tidak sebanding dengan benefit menggunakan smartwatch.
Karena beberapa pengalaman ini, saya masih lebih suka mengoleksi dan menggunakan jam tangan tradisional (both analog and digital).
Beberapa bulan lalu, istri saya beli smartwatch yang tipe sportswatch (Garmin Forerunner 265).
Saya pun jadi tertarik. Saya belum pernah menggunakan smartwatch tipe sportswatch seperti itu. Kebetulan saya juga mulai aktif berolahraga lagi (gym, berenang).
Setelah mencari selama beberapa hari, pilihan saya jatuh ke Garmin Instinct 3 Solar.

Berikut adalah beberapa komentar saya pribadi setelah menggunakan smartwatch ini secara rutin dalam 2 bulan terakhir.
Battery life
Saya suka banget dengan battery life dari jam ini. Tanpa bantuan solar charging, battery life jam tangan ini seharusnya bisa bertahan hingga hampir 1 bulan. Saya belum pernah test sampai se-ekstrem ini, tapi biasanya saya pakai 2 minggu baterainya masih sisa 40-50%.
Akhirya saya bisa tenang menggunakan smartwatch sepanjang hari, termasuk dipakai tidur semalaman. Sekarang saya hanya butuh charge jam tangan ini setiap 2 atau 3 minggu saja. Sangat melegakan.
Saya yakin bisa travelling dua minggu menggunakan jam ini tanpa harus di-charge sekalipun selama perjalanan. One less charging cable to worry about.
Mengenai kemampuan solar chargingnya, sepertinya untuk keseharian saya masih belum terlalu berpengaruh. Saya lebih banyak berada di dalam ruangan ^^;
Buttons!
Saya mungkin memang sudah tua hahaha tapi semakin ke sini, saya makin tidak terima dengan tren “semua harus touch screen”. Misalnya tombol-tombol fisik di mobil-mobil keluaran baru yang sepertinya pada kompak memaksa menggunakan touchscreen.

Saya justru suka banget dengan tombol fisik.
Instinct 3 Solar ini tidak punya touchscreen. Semua action harus dilakukan menggunakan tombol fisik. Which I like. Bisa dibilang saya tidak pernah melakukan action yang tidak disengaja menggunakan jam tangan ini.
The display
Salah satu alasan utama jam ini bisa memiliki battery life yang panjang itu karena layarnya. Tidak ada touchscreen, dan menggunakan teknologi layar MIP (memory‑in‑pixel, transflective) monokrom yang sangat hemat energi.
Memang hanya hitam-putih, tapi layarnya itu always ON. Buat saya pribadi, layar always ON itu lebih penting, dan warna hitam-putih itu sudah cukup untuk menampilkan informasi-informasi yang dibutuhkan.
Mungkin kalah keren kalau dibandingkan dengan layar AMOLED, tapi saya malah lebih suka dengan “retro”-charm dari layar hitam-putih ini 😀
Smart, but just enough
Buat saya smartwatch itu tidak perlu terlalu canggih-canggih amat. Tidak perlu untuk bisa menelpon, memainkan musik secara mandiri, dll.
Yang saya butuhkan hanya: melihat notifikasi, bisa set timer dan reminder, dan activity tracking. Semua ini sudah bisa dilakukan di Instinct 3 Solar.
Saya juga suka bahwa semua setting yang dibutuhkan itu bisa diakses langsung di menu jam tangannya, tanpa harus menggunakan aplikasi di smartphone.
Pastinya akan lebih mudah melalui aplikasi, tapi bukan sebuah keharusan. Saya pribadi cukup jarang buka aplikasi Garmin Connect.
Health gamification
Salah satu alasan banyak orang suka menggunakan smartwatch itu untuk monitor kesehatan mereka. Garmin memiliki beberapa metrik menarik untuk memberikan rangkuman tersebut: body battery, recovery time needed, sleep score, dst.
Selama ini saya merasa kurang bisa merasakan manfaat ini karena masalah battery life yang saya sebutkan di atas. Baru kali ini saya menggunakan smartwatch yang saya bisa gunakan selama berminggu-minggu tanpa pusing harus sering charging. Jadi saya jadi jauh lebih rutin menggunakan smartwatch ini, terutama ketika malam hari. Dulu saya sering bolong pakai ketika tidur karena memilih untuk charge smartwatchnya agar bisa digunakan keesokan harinya.
Karena kebetulan saya dan istri menggunakan jam dari brand yang sama, kami jadi sering membandingkan skor badan kita haha. Yang sekarang ini kami sedang ingin improve adalah metrik Fitness Age. Istri saya sudah berhasil mencapai Fitness Age sesuai dengan rekomendasi Garmin, sedangkan saya masih harus menurunkan Fitness Age saya 1 tahun lagi 😛
The unexpected bonus
Fitur yang tidak saya sangka akan menjadi sangat berguna itu adalah fitur senter dari jam ini.
Seperti yang saya sebutkan di atas, sekarang ini saya rutin pakai smartwatch ini ketika tidur. Terkadang menjelang subuh saya harus ke kamar mandi untuk buang air kecil. Biasanya saya harus menyalakan lampu kamar mandi yang pastinya sangat terang untuk orang yang terbangun di malam hari.
Instinct 3 solar ini memiliki fitur senter, dan salah satu mode senternya itu adalah lampu berwarna merah. Senter warna merah ini tidak silau di mata dan memang umum digunakan pada malam hari; ketika camping misalnya.
The design
Sayangnya design jam ini tidak cocok untuk semua kegiatan. Design-nya sangat rugged, dan sporty. Ukuran 45mm masih terlihat lumayan besar di pergelangan tangan saya yang kecil.
Untuk sehari-hari tidak masalah, tapi seringkali saya rindu untuk menggunakan koleksi jam tangan analog saya yang designnya jauh lebih keren hehe
Tapi meskipun saya tidak rutin menggunakan jam ini ketika pagi hingga malam, saya rajin menggunakan jam ini ketika tidur untuk sleep tracking dan untuk senter-nya.
Wishlist
Wishlist saya yang utama itu bukan spesifik ke jam ini, namun ke sharing activity tracking / data kesehatan secara umum.
Untuk orang yang menggunakan gadget dari banyak merk yang memiliki irisan fitur, saya sangat berharap ada satu standard yang memungkinkan semua brand gadget untuk sharing data secara terbuka dan aman.
Hal ini sudah tercapai di dunia smarthome dengan standard Matter. Standard ini memungkinkan gadget-gadget smarthome dari beragam merk untuk bisa saling mengerti satu sama lain.
Dalam konteks activity tracking, misalkan ada suatu hari saya tidak menggunakan smartwatch Garmin, jumlah langkah saya sebenarnya masih dideteksi dan dihitung dari aplikasi Samsung Health di smartphone. Jika sudah ada standard yang disetujui bersama, seharusnya Samsung Health dan Garmin Connect bisa saling sharing data. seperti jumlah langkah.
Bayangkan jika Garmin, Strava, Samsung, Apple, Google, dll, memiliki standard yang sama untuk interoperabilitas dan data sharing yang aman. Kita sebagai konsumen pasti akan jauh lebih senang karena memiliki ownership yang lebih besar atas data kesehatan dan aktifitas kita pribadi.
Kesimpulannya, saya tidak menyangka kalau smartwatch yang akhirnya sesuai dengan kebutuhan saya adalah sebuah sportswatch.
Battery life yang panjang berhasil mengubah pandangan saya mengenai smarwatch.
Smartwatch tetap bukan gadget utama, namun ketika tidak perlu banyak pusing mengenai battery life, smartwatch jadi jauh lebih berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum kamu pergi
Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol di bawah untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru.
